Category Archives: ekonomi

Dari mana asal uang?

Saat menulis ini kepalaku sedang terdistraksi antara buku yang sedang aku baca, pekerjaan yang sedang aku lakukan dan Ideologi tentang lingkungan yang selama ini tertanam. Yang berakhir pada pemikiran yang semakin kuat, antara pertentangan ekonomi dan ekologi. Yah, pertentangan, bagaikan air dan es, apabila yang satu ada maka yang lain akan hilang. Mungkin terkesan berpola pikir pesimis dan konservatif, tapi itulah yang ingin saya coba curahkan saat ini.

Semakin berkembangnya modernitas yang mendorong berkembangnya teknologi dan ekonomi secara global diiringi oleh semakin menurunnya kualitas lingkungan dan sumber daya alam di bumi. Yah, bisa kita lihat langsung berapa luas hutan yang menjadi lahan perkebunan, pertanian, atau pemukiman? Berapa banyak terumbu karang yang telah rusak? Itu bukan isu, bisa dilihat langsung.

Namun sudah banyak yang membahas hal tersebut. Kita bisa dengan mudah mendapatkan infonya melalui publikasi atau seminar para pecinta lingkungan atau para LSM yang bergerak di bidang lingkungan.

Yang ingin saya bahas disini adalah kepercayaan bahwa jalan menuju lingkungan yang baik adalah melalui kemajuan ekonomi terlebih dahulu. Seingga kemudian muncul jargon green economic, green GDP, dan green-green yang lainnya.

Saat ini saya masih belum begitu paham mengenai bagaimana konsep ekonomi hijau tersebut. Untuk menuju kesana saya belajar ekonomi dasar terlebih dahulu, tentang apa itu uang dan bagaimana uang bisa tumbuh?

Pertumbuhan ekonomi bisa jadi berarti pertumbuhan uang atau modal, meski beberapa ekonom ternama membedakan antara uang dengan modal atau kapital. Karena sejatinya uang memang hanyalah sarana untuk tukar menukar suatu barang, sedangkan modal dalam ekonomi adalah sumberdaya yang digunakan untuk memproduksi suatu barang. Lalu mengapa harus di bedakan dan mengapa harus disamakan antara uang dengan modal? Butuh penjelasan ahli ekonomi untuk itu, lebih baik kita baca buku yang sudah jelas saja. Disini kita sepakati saja bahwa uang bisa sama dengan modal.

Yah, pertumbuhan ekonomi bisa jadi berarti pertumbuhan uang. Apa maksud pertumbuhan uang? Tepat, uang bisa jadi seperti tumbuhan, yang bisa ditanam, kemudian berbunga dan berbuah lalu tumbuh menjadi tanaman baru. Dengan kata lain uang juga bisa bereproduksi, beranak dan bertambah banyak. Jadi bukan hal mistis jika ada orang yang bisa menggandakan uang di dunia ini, bukan memalsukan, tapi benar-benar menambah jumlahnya menjadi berkali-kali lipat. Itulah sifat uang sebagai modal.

Lalu apa hubungan antara pertumbuhan ekonomi atau pertumbuhan uang dengan degradasi lingkungan?

Untuk tumbuh, ekonomi membutuhkan sumber daya, dan sumber daya satu-satunya hanyalah dari alam, alam yang sumberdayanya paling berguna untuk kehidupan adalah bumi. Yah, uang lahir dari bumi.

Tapi bukankah kini begitu banyak perkembangan teknologi yang ramah lingkungan, dan bahkan aku tak butuh merusak bumi untuk menghasilkan uangku. Yang jelas merusak adalah mereka para penambang, pabrik penghasil limbah, atau petani yang terus menambah luas lahan.

Mungkin yang kita lakukan bukan lah hal kotor, bahkan mungkin hal yang suci, sebagai guru misalnya. Mana mungkin seorang guru mampu mengubah bukit menjadi jurang demi mendapatkan sebongkah batuan indah? Ya, yang dilakukan seorang guru hanya mampu menghasilkan ilmuwan, pemimpin, atau penulis besar.

Sayangnya ekonomi tidak berjalan secara parsial. Dia berjalan secara utuh dan menyeluruh, menghinggapi setiap sendi manusia dari lahir hingga wafatnya. Untuk memahaminya bisa kita lihat bagaimana sirkulasi uang itu berjalan.

Dalam setiap kegiatan ekonomi, produksi, distribusi, ataupun konsumsi, selalu berharap akan keuntungan yang mampu menambah modal mereka sebelumnya. Produsen akan menjual barang produksinya lebih mahal dari modalnya, distributor mengambil untung dengan menaikkan harga barang yang dia beli dari produsen, dan konsumen akan bekerja lebih giat untuk membeli barang kebutuhannya. Sehingga ketiganya uangnya terus meningkat. Lhoh, kok bisa, lalu dari mana uang itu berasal? logikanya, jika ada yang untung maka harus ada yang dirugikan.

Sepertinya konsumen yang harusnya rugi besar, namun ternyata tidak. Konsumenpun mendapatkan uang dengan menyediakan faktor produksi, yaitu tenaga kerja ke baik produsen maupun distributor. Jadi darimanakah uang setan ini muncul? Bukan dari berkah malaikat di surga atau hadiah iblis dari neraka. Uang ini meningkat seiring dengan bertambahnya pemanenan sumberdaya alam yang tersedia.

Seorang pegawai pabrik air minum harus bekerja lembur untuk memenuhi kebutuhan minum keluarganya yang dia beli dari distributor. Distributor mendapatkan peningkatan pendapatan dengan meningkatnya penjualan. Produsen harus berproduksi lebih banyak air minum yang berarti keuntungan yang didapatpun semakin besar. Maka mata air harus lebih banyak di kuras lagi. Begitulah alur sederhana pengurasan sumberdaya alam secara tanpa kita sadari. Dan dari sanalah air di konversi menjadi uang.

Dari logika sederhana tersebut dapat di simpulkan sementara bahwa pertumbuhan ekonomi berarti peningkatan pengurasan sumberdaya alam. Dari menyadari hal inilah kemudian aku menjadi pesismis, bahwa memang green economic itu bisa membawa perdamaian di dunia. Meski konsep tersebut mengedepankan pembangunan ekonomi dibanding pertumbuhan ekonomi. Namun apakah pembangunan ekonomi, akan menimbulkan dampak yang lebih kecil pada lingkungan?

Semoga saja.